11:56 pm - Friday October 31, 2014

Dampak Positif Negatif Pelemahan Rupiah Mulai Dirasakan

ekspor impor indonesiaSejumlah industri dan pelaku usaha yang terkait dengan kegiatan impor mulai merasakan dampak negatif pelemahan rupiah. Dampak itu antara lain dirasakan industri otomotif dan ritel yang sangat bergantung impor. Namun, eksportir kerajinan merasakan dampak positif.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman MR di Jakarta, Rabu (21/8/2013), mengatakan, produsen perlu mencermati sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap produksi ataupun penjualan mobil di Indonesia.

”Bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang kini 6,5 % itu akan berdampak terhadap penjualan secara kredit pada September 2013. Kami perlu mencermati seberapa besar dampak kenaikan suku bunga terhadap penjualan,” kata Sudirman.

Faktor lain yang juga dicermati para produsen otomotif adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pelemahan ini akan berdampak terhadap biaya produksi.

”Kami ketahui dan evaluasi dari rekan ATPM (agen tunggal pemegang merek), ongkos produksi yang digunakan saat ini masih Rp 9.300. Jika sekarang nilai tukar sekitar Rp 11.000, kami harus mencermati dampaknya terhadap produksi dan penjualan,” kata Sudirman.

Sudirman menegaskan, kalangan pengusaha, khususnya otomotif, terus memonitor gejolak rupiah dan ekonomi, baik global maupun lokal, secara saksama apakah tren yang ada saat ini merupakan fenomena sementara atau kondisi riil yang berlanjut satu hingga dua bulan ke depan.

Jika jawabannya adalah terus berlanjut, secara jangka panjang jelas berdampak signifikan terhadap industri otomotif nasional. Hal ini terjadi karena struktur industri otomotif nasional saat ini masih sangat bergantung pada impor. Industri otomotif Daihatsu, misalnya, meski komponen lokal sudah mencapai 85 %, tetap ada kandungan impornya.

Seluruh faktor tersebut diperkirakan akan berpengaruh terhadap produksi dan penjualan mobil dalam lima bulan terakhir tahun 2013.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Peritel Indonesia Tutum Rahanta mengatakan, harus ada kreativitas pemerintah untuk membuat kebijakan yang pasti. Harus ada pernyataan yang pasti dan tidak gamang karena upaya ini hanya bisa diatasi dengan menekan impor.

Namun, masalahnya saat ini tidak ada satu pun sektor industri yang tidak impor untuk berbagai kebutuhannya, baik untuk produksi maupun pengemasannya. Seluruh industri manufaktur nasional rentan terhadap impor. Apabila impor, yang umumnya bahan baku. direm. jelas ekonominya akan tertahan..

”Bagi saya, ini masalah krusial karena kita tidak punya daya tahan seperti negara lain dalam menghadapi krisis. Begitu kena krisis mengatasinya sulit dan lama. Pemerintah kita tidak punya kemampuan membuat nilai tambah dalam memperkuat ekonomi. Kita juga tidak kreatif untuk membuat atau mendukung industri. Akibatnya semuanya harus diimpor sekalipun itu untuk kepentingan produksi dan pemasaran pengusaha skala ekonomi kelas UKM,” kata Tutum.

Sementara itu, ekspor kerajinan gerabah dan keramik di Kasongan, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, meningkat hingga 30 % karena melemahnya rupiah. Situasi ini diharapkan para perajin setelah industri kerajinan gerabah dan keramik terpuruk sejak tahun 2008 akibat imbas krisis ekonomi global.

Peningkatan ekspor di Kasongan terpantau dari banyaknya pembeli kerajinan dari beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara di Eropa, beberapa hari terakhir. ”Yang paling banyak diminati pembeli luar negeri, antara lain guci dan patung,” kata Timbul Raharjo, perajin dan pemilik Studio Timboel Keramik di Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Rabu (21/8/2013).(sumber)

Comments

Filed in: Berita Pasar

No comments yet.

Tidak Punya Facebook? Tinggalkan Komentar disini

Gambar CAPTCHA
*