Properti Jadi Pilihan Utama Investasi Masyarakat Indonesia

investasi rumahMasyarakat Indonesia semakin menggandrungi properti sebagai instrumen investasinya. Hal tersebut menggeser dana tunai, termasuk deposito dan tabungan sebagai investasi paling populer sebelumnya. Demikian hasil survei Citi  Financial Quotient (FinQ) yang dirilis Selasa (25/2/2014) ini, di Jakarta.

“Hasil survei terbaru menunujukan bahwa properti telah mengambil alih posisi sebagai bentuk investasi paling populer di Indonesia, diikuti oleh dana tunai dan asuransi,” sebut Retail Bank Segment Marketing Head, Citibank N.A Indonesia Ivan Jaya.

Survei tahunan ini dilakukan terhadap masyarakat Indonesia dengan gender, umur, domisili dan tingkat pendapatan yang berbeda. Beberapa kategori yang termasuk dalam penghitungan FinQ mencakup penganggaran, program tabungan, perencanaan pensiun, investasi, dan kepemilikan rumah.

“Financial quotient atau FinQ adalah istilah yang digunakan Citigroup untuk menunjukkan kemampuan seseorang dalam memahami pentingnya perencanaan keuangan dan mengimplementasikan tata kelola keuangan dengan baik,” ucapnya.

Tahun 2013, skor FinQ Indonesia naik 3 poin menjadi 60,7 poin dibanding tahun 2012 (57,7 poin). Posisi ini lebih tinggi dibanding negara lain seperti Filipina (54,7 poin). Namun demikian, data juga menunjukkan bahwa hanya 36 persen responden di Indonesia yang mengaku mematuhi anggaran bulanan yang dibuatnya, lebih rendah dari 39 persen yang dihasilkan oleh responden di Filipina.

Citi FinQ 2013 juga menunjukkan adanya pergerakan dalam tren pengelolaan kekayaan (wealth management) masyarakat di Indonesia, termasuk dalam hal investasi.  “Survei reguler ini juga dilakukan sebagai bentuk komitmen Citi untuk memantau dan mengantisipasi perilaku pasar guna menghadirkan produk dan jasa inovatif yang tentunya sesuai dengan kebutuhan perbankan masyarakat Indonesia,” ujar Ivan.

Menurut analisis Boston Consulting Group pada pertengahan tahun lalu, setiap tahunnya akan ada sekitar 8 hingga 9 juta orang Indonesia yang memasuki kelas menengah (emerging affluent) dan kelas atas (affluent), seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi negara. Hal tersebut juga tercermin di salah satu kategori survei dimana 78 persen responden mengatakan bahwa mereka tertarik untuk menggunakan jasa pengelolaan kekayaan (wealth management), walaupun hanya 11 persen dari total responden yang sudah menggunakan jasa wealth management.

“Melihat kondisi tersebut, di tahun 2014 ini Citibank Indonesia memperkuat layanan Citigold dengan fokus pada tiga pilar utama, yakni wealth advisory, global banking, dan rewards & privileges,  yang dirancang untuk menjawab kebutuhan nasabah dalam kategori affluent,” papar Ivan.

Sebagai informasi saja, secara keseluruhan skor FinQ Indonesia telah mengalami peningkatan sebesar 8 poin sejak survei ini pertama kali dilakukan pada bulan Oktober 2007 (52,7 poin). (sumber)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Gambar CAPTCHA

*