Saham Cina Menurun , Nilai Yen Menurun Dan Dollar Menguat

idvMIiyjtEysSaham China mengalami penurunan terbesar sejak November 2010 di tengah kekhawatiran krisis uang tunai yang akan mengganggu pertumbuhan negara dengan ekonomi  terbesar kedua di dunia. Ekuitas eropa saat ini turun dan dolar menguat.

Indeks Perusahaan terbesar di Cina CSI 300 (SHSZ300)  mengalami penurunan sebesar  5,8 % pada pukul 07:33 di London, dan menuju penurunan terparah tahun ini menjadi lebih dari 20 %.indeks  MSCI Asia Pacific turun 2 %. Euro Stoxx 50 turun 0,4 % dan indeks Standard & Poor 500 (SPA) kehilangan 0,6 % . Dolar menguat terhadap 15 dari 16 mata uang utama sedangkan yen melemah 0,6 % menjadi 98,48. Imbal hasil obligasi 10-tahun Australia dan masuk ke level tertinggi dalam 14 bulan ketika  risiko kredit di Asia meningkat. Tembaga turun 2,2 % di London.

Menurut Bank Sentral “ sistem likuiditas perbankan  Cina berada pada tingkat yang wajar” , karena pemberi pinjaman mendesak untuk meminimalisir resiko  dari ekspansi kredit. Tarif repo overnight bangsa adalah 6.47 %, lebih dari dua kali lipat rata-rata tahun ini. Data minggu ini mungkin menunjukkan order barank  AS naik meningkat dan  harga rumah terus stabil ,  dan ini akan memperbesar kemungkinan  untuk Federal Reserve dalam mangembalikan skala stimulus moneter AS di akhir tahun ini.

“Vasu Menon, kepala konten dan penelitian di OCBC Bank Ltd di Singapura, mengatakan kepada Bloomberg TV. “Cina telah melakukan  pesta kredit yang  terlalu lama dan saat ini  Pemerintah berusaha untuk menyeimbangkan  kembali keadaan perekonomian, dan juga mencoba  untuk melakukan penghematan pada  sistem perbankan. Yang berarti akan ada pengetatan dalam system perkreditan. “

Yen siap untuk melakukan penutupan terendah  sejak 10 Juni terhadap  dolar dan kehilangan 0,4 persen menjadi 128.99 per euro.  Index Dollar, yang mengukur nilai mata uang terhadap enam mata uang utama, meningkat  0,4 %  menjadi 82,654 hingga ke  82,686, dan saat ini memasuki  level tertinggi sejak 5 Juni.

Menurut Takahiro Mitani, presiden dana pensiun publik negara itu, mengatakan dalam sebuah wawancara 21 Juni” Mungkin janji  Bank sentral Jepang terlalu berlebihan  ketika menetapkan tujuan mencapai target inflasi  2 % dalam waktu dua tahun.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Gambar CAPTCHA

*