Indian Rupee Sedang Berjuang Melawan Krisis, Bagaimana Dengan IDR?

rupeePelemahan spektakuler yang terjadi pada rupe India mencuri perhatian pelaku pasar dalam beberapa bulan terakhir. Namun, Credit Agricole berpendapat, fokus pasar dalam waktu dekat akan berganti kepada pergerakan rupiah Indonesia. Credit Agricole mengingatkan, rupiah bisa bernasib sama dengan rupe.

Menurut Dariusz Kowalczyk, senior Asia ex-Japan strategist Credit Agricole, ada beberapa faktor yang menyebabkan rupiah melemah. Sebut saja perlambatan ekonomi dan kenaikan inflasi yang melampaui inflasi India. Selain itu, defisit neraca perdagangan juga kian membengkak. Di sisi lain, cadangan devisa asing Indonesia kian menipis. Masalah-masalah tersebut sebelumnya juga dihadapi oleh perekonomian India.

“Gambaran fundamental Indonesia saat ini hampir sama dengan India. Namun tekanan terhadap rupiah tak sebesar rupe, dan rupiah harus segera menguat,” jelas Kowalczyk.

Sekadar informasi, rupe India sudah keok nyaris 13% terhadap dollar AS (year to date) dan sempat menyentuh level rekor terlemahnya pada pekan lalu di posisi 61,87 per dollar. Saat ini, rupe diperdagangkan di kisaran 61,19 per dollar AS. Sementara, pelemahan rupiah sudah mencapai 7% per dollar AS pada tahun ini dan diperdagangkan di kisaran 10.285 per dollar AS.

Credit Agricole meramal, rupiah akan terus melemah hingga mencapai posisi 10,400 per dollar pada akhir tahun mendatang. Prediksi ini lebih bearish ketimbang proyeksi sebelumnya yang mematok di angka 9.890.

Alasannya, jelas Agricole, pelemahan rupiah yang disertai dengan inflasi tinggi, akan mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan yang dijadwalkan akan berlangsung Kamis (15/8). Catatan saja, inflasi tahunan Indonesia menembus 8,61% pada Juli, yang merupakan inflasi tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Kowalczyk juga memprediksi, suku bunga acuan akan naik sebesar 25 basis point menjadi 6,75%.

Pendapat berbeda diungkapkan oleh Nizam Idris, head of strategy for fixed income and currencies Macquarie. “Defisit neraca perdagangan Indonesia saat ini terbilang kecil jika dibandingkan India. Posisi dollar-rupiah masih akan terus menguat, namun saya rasa tekanannya tidak akan sedalam rupe,” jelas Idris.

Idris juga meramal BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan besok. Namun, lanjutnya, bukan kejutan jika BI tetap mempertahankan suku bunga.

Rupiah sempat menembus rekor terlemahnya terhadap dollar AS pada krisis finansial Asia pada tahun 1998 silam. Pada waktu itu, posisi mata uang Garuda sempat menyentuh level 16.800 per dollar AS.(sumber)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Gambar CAPTCHA

*