Utang Luar negeri Indonesia Dari Sektor Swasta Sulit Dianalisa

dolar amerikaBank Indonesia (BI) mengatakan utang luar negeri Indonesia dari sektor swasta sulit untuk dianalisa. Ini karena ternyata banyak perusahaan swasta yang tidak melaporkan rencana perusahaan.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulistiowaty menjelaskan pihak swasta banyak yang telah membeli dollar AS sebelum melakukan pembayaran utang luar negeri. “Mereka biasanya membeli dollar AS sekitar satu hingga dua bulan sebelum mereka membayar utang,” kata Hendy di Kantor Pusat BI, Rabu (22/1/2014).

Lebih lanjut Hendy mengatakan, kondisi ini diketahui BI setelah dilakukan survei. Berdasarkan hasil survei BI tersebut, ditemukan banyak perusahaan hang memiliki lebih banyak utang dibandingkan jumlah yang dibayar atau net inflow. “Masih banyak yang net inflow untuk pembayaran utang jangka pendek,” ujar dia.

Seperti diberitakan, BI mencatat tren perlambatan pertumbuhan utang luar negeri (ULN) Indonesia masih berlanjut pada November 2013.  Posisi ULN Indonesia pada November 2013 tercatat sebesar 260,3 miliar dollar AS atau 29,2 persen dari PDB.

Perlambatan ULN terutama dipengaruhi turunnya posisi ULN sektor publik yang pada November 2013 tercatat turun menjadi 123,3 miliar dollar AS atau tumbuh negatif sebesar 2,7 persen (yoy).

Sementara itu,  posisi ULN sektor swasta mencapai 137,1 miliar dollar AS, tumbuh melambat 10,2 persen (yoy) dibanding bulan sebelumnya sebesar 11,5 persen yoy. Pada ULN swasta, perlambatan pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh sektor.

ULN Indonesia terarah pada tiga sektor utama, yaitu keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, sektor industri pengolahan, serta sektor pertambangan dan penggalian masing-masing sebesar  26,1 persen,  20,5 persen, dan  18,2 persen dari total ULN swasta. ULN sektor keuangan dan sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 9,4 persen (yoy) dan 9,1 persen (yoy).

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Gambar CAPTCHA

*